Penjualan Asuransi Menuju Era Digitalisasi

Industri 4.0 adalah nama tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik. Istilah ini mencakup sistem siber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan dan komputasi kognitif.

Industri 4.0 menghasilkan “pabrik cerdas”. Di dalam pabrik cerdas berstruktur moduler, sistem siber-fisik mengawasi proses fisik, menciptakan salinan dunia fisik secara virtual, dan membuat keputusan yang tidak terpusat. Lewat Internet untuk segala (IoT), sistem siber-fisik berkomunikasi dan bekerja sama dengan satu sama lain dan manusia secara bersamaan. Lewat komputasi awan, layanan internal dan lintas organisasi disediakan dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak di dalam rantai nilai.

Indonesia sudah memasuki era Industri 4.0, yang antara lain ditandai dengan serba digitalisasi dan otomasi. Namun, belum semua elemen masyarakat menyadari konsekuensi logis atau dampak dari perubahan-perubahan yang ditimbulkannya. Fakta-fakta perubahan itu masih sering diperdebatkan. Misalnya, banyaknya toko konvensional di pusat belanja (mall) yang tutup sering dipolitisasi dengan argumentasi bahwa kecenderungan itu disebabkan oleh menurunnya daya beli masyarakat. Padahal, toko-toko konvensional memang mulai menghadapi masalah serius atau minim pengunjung karena sebagian masyarakat perkotaan lebih memilih sistem belanja online.

Pengguna internet di Indonesia mencapai 143 juta orang.K etrampilan generasi milenial bisa terekam pada semua perguruan tinggi atau universitas di Indonesia. Generasi milenial akan memainkan peran penting. Sedikitnya 49,5 persen pengguna internet berusia 19-34 tahun. Mereka berinteraksi atau melek teknologi berkat telepon pintar (smartphone).

Memang sudah dimulai dari beberapa tahun yang lalu. System perusahaan Asuransi belum semuanya siap dalam hal penjualan online terkendala oleh mahalnya IT.

Masih banyak kendala kendala lainnya dan masalah teknis, cover asuransi yang mana perlu untuk survey resiko misalnya.

Kendala berikut adalah fraud dalam hal survey dan foto. Yang mana bisa terjadi manipulasi data via gallery belum tersedia back up yang bisa diterima Perusahaan Asuransi.

Online System bisa menghemat waktu, tenaga dan pikiran. Tidak perlu banyak SDM dan paperless. Polis automatis langsung dibayar. Tidak ada outstanding sehingga Perusahaan Asuransi bisa memaksimalkan investasinya.

Kedepan kendala kendala yang disebut diatas bisa diatasi dengan digital on line.

Berikut, peluang untuk penjualan Asuransi Travel dan PA Insurance tidak membutuhkan proses underwriting secara khusus. Otomatis bisa di proses secara online.

Seperti diketahui penjualan ticket secara online melalui Tokopedia adalah  potensi pasar yang sangat besar  bagi industri asuransi.

Penulis baru kembali dari Malaysia  mendapatkan fakta  bahwa  berdasarkan hasil riset  warga Malaysia sudah  sadar di bidang asuransi online terutama untuk asuransi kendaraan dan travel didukung dengan system IT  yang memiliki konektivitas dengan  lembaga jasa keuangan dan perusahaan asuransi.

Taxi daring Grab yang beroperasi disana bisa mengambil cicilan sampai 9 ke 10 tahun. Bisa dibayangkan jumlah  premi asuransi yang bisa dihimpun untuk 9 sampai 10 tahun didepan. Dan kalau terjadi klaim mereka bisa langsung ke bengkel rekanan yang ditunjuk, tidak usah repot repot.

Mungkinkah ini terjadi di Indonesia?

Sebagai praktisi dan akademisi penulis  melihat bahwa ada peluang untuk asuransi simple risk. Antara lain asuransi rumah tinggal, motor, mobil, dan asuransi profesi dan asuransi perjalanan.

Indibest FORUM yang beranggotakan para pemain industry seperti Telkomsel, BNI, Alfamart, Qualcomm, IMX, WIN/PASSBAYS dan Lembaga Pemerintahan seperti BI, OJK dan Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) semua stakeholder sepakat bahwa dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 harus terlebih dahulu memahami pasar dan memetakan karakteristik dari pasar yang belum terlayani dengan baik oleh pemanfaatan teknologi.

Dimasa depan, ukuran besar perusahaan tidak menjadi jaminan, namun kelincahan perusahaan menjadi kunci keberhasilan meraih prestasi dengan cepat. Hal ini ditunjukkan oleh Uber yang mengancam pemain-pemain besar pada industri transportasi di seluruh dunia atau Airbnb yang mengancam pemain¬pemain utama di industri jasa pariwisata. Ini membuktikan bahwa yang cepat dapat memangsa yang lambat dan bukan yang besar memangsa yang kecil.

Generasi milenial akan memainkan peran penting. Sedikitnya 49,5 persen pengguna internet berusia 19-34 tahun.

Tak cukup hanya dengan penguasaan teknologi, tetapi harus dilengkapi penguasaan sejumlah bahasa asing agar bisa komunikatif pada tingkat global. Peningkatan kapasitas pekerja milenial itu bisa diwujudkan melalui pelatihan, kursus dan sertifikasi. Industri dan institusi pendidikan pun harus peduli pada isu tentang peningkatan kapasitas pekerja di era Industri 4.0 ini.

Dimasa depan menurut Future of Jobs Reports, World Economic Forum,ketrampilan  yang dibutuhkan untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0.  adalah sbb,

1.Complex problem solving. Kemampuan penyelesaian masalah kompleks dengan dimulai dari melakukan identifikasi, menentukan elemen utama masalah, melihat berbagai kemungkinan sebagai solusi, melakukan aksi/tindakan untuk menyelesaikan masalah, serta mencari pelajaran untuk dipelajari dalam rangka penyelesaian masalah.

2.Critical thinking. Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpikir masuk akal, kognitif dan membentuk strategi yang akan meningkatkan kemungkinan hasil yang diharapkan. Berpikir kritis juga bisa disebut berpikir dengan tujuan yang jelas, beralasan, dan berorientasi pada sasaran.

3.Creativity. Kemampuan dan kemampuan untuk terus berinovasi, menemukan sesuatu yang unik serta bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Creativity disini dapat juga diartikan mengembangkan sesuatu hal yang sudah ada sehingga dapat menjadi lebih baik.

4.People management. Kemampuan untuk mengatur, memimpin dan memanfaatkan sumber daya manusia secara tepat sasaran dan efektif.

5.Coordinating with other. Kemampuan untuk kerjasama tim ataupun bekerja dengan orang lain yang berasal dari luar tim.

6.Emotion intelligence kecerdasan emosional. Kemampuan seseorang untuk mengatur, menilai, menerima, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya.

7.Judgment and decision making. Kemampuan untuk menarik kesimpulan atas situasi yang dihadapi serta kemampuan untuk mengambil keputusan dalam kondisi apapun, termasuk saat sedang berada di bawah tekanan.

8.Service orientation . Keinginan untuk membantu dan melayani orang lain sebaik mungkin untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dengan memiliki service orientation, kita akan selalu berusaha memberikan yang terbaik pada pelanggan tanpa mengharapkan penghargaan semata.

9.Negotiation. Kemampuan berbicara, bernegosiasi, dan meyakinkan orang dalam aspek pekerjaan. Tidak semua orang secara alamiah memiliki kemampuan untuk mengadakan kesepakatan yang berbuah hasil yang diharapkan, namun hal ini dapat dikuasai dengan banyak latihan dan pembiasaan diri.

10.Cognitive flexibility .Kemampuan untuk menyusun secara spontan suatu pengetahuan, dalam banyak cara, dalam memberi respon penyesuaikan diri untuk secara radikal merubah tuntutan situasional.

Di era sekarang jarang sekali ditemukan perusahaan mati karena bergerak terlalu cepat, namun sebaliknya yang seringkali ditemukan adalah perusahaan mati karena bergerak terlalu lambat.

Inklusi financial yang masih relative rendah di Indonesia menggambarkan besarnya potensi / peluang yang belum tergali.

Semoga melalui artikel ini bisa terbuka peluang buat pelaku bisnis, dalam hal ini pialang asuransi dan perusahaan asuransi. Demikian pula OJK bisa merespon dengan baik untuk penjualan asuransi online.

Tags
Share this post:
Related Post

KUPASI Bukan Sekadar “Wadah Menulis”

Pada 10 Januari 2013, di Auditorium LIPI Jakarta, Komunitas Penulis Asuransi Indonesia (KUPASI) dideklarasikan dengan satu keyakinan: industri asuransi Indonesia membutuhkan suara. Bukan sekadar suara yang menulis tentang premi dan polis, melainkan suara yang berani berpikir, menggagas solusi, serta duduk satu meja dengan para pembuat kebijakan.

“Menjadi pemimpin dalam penyampaian gagasan (opinion leader) dan solusi asuransi dan manajemen risiko bagi publik serta perumusan kebijakan asuransi nasional.”

Visi itu berdiri di atas tiga pilar: pemimpin gagasan, pemberi solusi, dan mitra strategis dalam perumusan kebijakan. Dari sanalah lahir tagline “Mencerdaskan, Mencerahkan.” Literasi dipandang bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sarana membangun pemahaman publik sekaligus mendorong lahirnya kebijakan asuransi yang lebih baik.

Sejak awal KUPASI dirancang sebagai rumah bagi para ahli asuransi—aktuaris, praktisi, akademisi, dan jurnalis—untuk mengkaji isu strategis seperti risiko bencana, perlindungan masyarakat, dan inklusi keuangan, lalu menyampaikannya kepada regulator sebagai sparing partner yang konstruktif. Frekuensi bencana yang meningkat dan protection gap yang masih lebar menuntut ruang diskusi yang diisi pemikiran kredibel.

Dalam perjalanannya, KUPASI menghadapi berbagai dinamika, termasuk perbedaan pandangan dengan regulator dalam sejumlah isu strategis. Dinamika itu justru menjadi bagian dari komitmen organisasi untuk tetap menyampaikan gagasan yang independen dan konstruktif.

KUPASI tidak lahir untuk sekadar menjadi wadah berkumpul. Cita-citanya lebih besar: mengubah cara bangsa Indonesia memandang risiko melalui gagasan, literasi, dan kontribusi nyata bagi kemajuan industri asuransi nasional.

12 Pendiri KUPASI

Pada 30 Agustus 2012, di ruang rapat komisaris AJB Bumiputera 1912, 12 penulis asuransi dan keuangan menyepakati pendirian KUPASI. Nama mereka tercantum dalam Mukadimah Anggaran Dasar (urutan abjad):

Ana Mustamin · Arman Jufri · Freddy Pieloor · Hasbullah Thabrany · Herris B. Simanjuntak · Hotbonar Sinaga · Irvan Rahardjo · Kapler A. Marpaung · Kasir Iskandar · Mucharor Djalil · Munawar Kasan · Sugiharto.