BMA 2023: Digitalisasi dan Peningkatan Inklusi

crop female using touchpad on laptop in office

Oleh: Christian Evan Chandra*

Internet bukan hal yang langka di Indonesia. Tidak sedikit di antaranya memanfaatkannya untuk pengelolaan keuangan, demikian menurut data We Are Social pada Januari 2023. Setidaknya 20% masyarakat kita berada di kalangan menengah ke atas menurut data Bank Dunia pada 2016.

Penetrasi Asuransi yang Masih Rendah

Akan tetapi, data AAJI mencatat bahwa baru 10,7% penduduk menjadi tertanggung polis asuransi jiwa perorangan. ASEAN Insurance Surveillance Report 2022 menunjukkan bahwa penetrasi asuransi kita masih berada di bawah tetangga ASEAN.

Berdasarkan Statistik Perasuransian 2021 yang disusun oleh OJK, premi asuransi jiwa mencapai 1,33% GDP ketika premi asuransi umum dan reasuransi mencapai 0,59% GDP. Rendahnya pengetahuan, ditambah lagi perasaan takut tertipu, pengalaman buruk, sentimen negatif di media massa, dan premi yang terasa mahal dapat menjadi penyebab kondisi ini.

Upaya Digital OJK dan Perusahaan Asuransi

Padahal, OJK dan perusahaan asuransi telah berupaya memperbaiki keadaan. Regulasi dan pengawasan yang lebih ketat menuntut industri lebih transparan. RIPLAY memungkinkan calon nasabah membaca merilis ringkasan dan ilustrasi produk. Produk yang sesuai dengan kebutuhan pun bisa dicari tanpa keberadaan tenaga pemasar.

Media sosial juga digunakan untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Nasabah berkesempatan membandingkan proposal dan berkonsultasi tanpa bertemu dengan agen. Pertemuan fisik hanya dilakukan untuk saling mengenal, memastikan pemahaman nasabah, dan melakukan pengajuan polis.

Kanal digital juga dimanfaatkan perusahaan asuransi untuk memberikan edukasi dan informasi pascapenjualan, juga menerima pengajuan klaim tertentu. Layanan bisa berjalan lancar sekalipun agen tak lagi mudah ditemui. Insurtech pun mulai dirambah untuk membantu nasabah dengan budget terbatas dan kebutuhan manfaat yang sederhana serta bersifat temporer.

Usaha ini memang tidak main-main. Di pandemi kemarin, aku bisa membeli polis dengan lancar melalui teleconference sampai menerima polis digital terlebih dahulu sebelum polis fisik tiba di rumah. Informasi dan pengelolaan polis bisa dilakukan melalui WhatsApp dan website, sedangkan klaim bisa dilakukan online selama nilainya tidak signifikan dan verifikator tidak merasa membutuhkan dokumen fisik.

Potensi Pengembangan ke Depan

Digitalisasi dan peningkatan inklusi asuransi masih ada di tahap awal dengan potensi perkembangan luar biasa ke depannya. Perusahaan asuransi berpeluang mengembangkan sistem animasi bersuara yang lebih user friendly dan informatif dibandingkan terhadap membaca RIPLAY dan mengisi e-form. Penjualan polis yang lebih rumit dan berjangka lebih panjang pun bisa dilakukan sepenuhnya online atau setidaknya semi-online. Pengembangan proses KYC perlu dilakukan agar perusahaan tetap mengenal dan dapat menyeleksi nasabah dengan baik sekalipun secara digital.

Modernisasi klaim reimbursement asuransi kesehatan juga patut dipertimbangkan. Kebutuhan membawa formulir klaim asuransi tidak praktis di kala darurat dan juga kurang ramah lingkungan. Belum semua fasilitas kesehatan mampu dan bersedia membantu mencetakkan formulir tersebut untuk nasabah. Ditambah lagi, keterbatasan waktu tenaga kesehatan untuk mengisi formulir memaksa nasabah untuk datang kembali beberapa hari kemudian untuk mengambilnya. Hal ini tentu menimbulkan kerugian biaya dan waktu untuk nasabah.

person in black suit holding white digital tablet
Photo by Kampus Production on Pexels.com

Kredensial Digital dan Pencegahan Manipulasi Klaim

Perusahaan asuransi dapat belajar dari startup fintech untuk memanfaatkan kredensial digital seperti Digisign atau Privy. Nasabah dapat mengisi data diri dan nomor keanggotaan asuransinya terlebih dahulu. Selanjutnya, tenaga kesehatan akan mengisi detil perawatan yang diberikan dan pembubuhan tanda tangan fisik serta stempel kini diganti dengan kredensial digital sebelum akhirnya dikirimkan ke perusahaan asuransi. Fasilitas kesehatan dapat mempertimbangkan untuk memberikan dokumen elektronik terkait hasil pemeriksaan dan kwitansi yang telah dilegalisir secara digital.

Penggunaan kredensial digital yang bersifat unik dan tidak dapat ditiru membantu perusahaan asuransi untuk terhindar dari tindakan manipulasi klaim reimbursement bermodal dokumen palsu. Peluang nasabah untuk mengintervensi apa yang diisikan oleh tenaga kesehatan juga berkurang sehingga independensi dalam pemberian informasi lebih terjamin.

Menekan Biaya dan Premi Asuransi

Keberadaan platform digital dapat membantu perusahaan untuk menghilangkan kebutuhan terhadap buku polis dan surat-surat pemberitahuan yang dikirimkan secara fisik. Jika industri asuransi dapat meniru ketentuan penerbit kartu kredit dengan menjadikan keberadaan keduanya secara fisik sebagai fitur opsional dan berbayar, biaya operasional perusahaan bisa ditekan dan membuat premi asuransi lebih terjangkau. Penyederhanaan proses penjualan polis yang sebelumnya membutuhkan peran agen secara penuh untuk menjadi semi-online atau sepenuhnya online juga dapat mengurangi biaya akusisi sehingga premi asuransi menjadi semakin terjangkau.

Ke depannya, asuransi bisa jadi bukan lagi barang mewah mengingat perbandingan antara premi terhadap manfaat yang diperoleh bisa ditekan. Peralihan kanal penjualan dari melalui agen menjadi langsung oleh sistem perusahaan juga dapat menurunkan premi minimum per polis yang dapat diterbitkan, mengingat perusahaan asuransi tidak perlu menjaga ekspektasi nilai minimum komisi yang diperoleh seorang agen untuk dapat berusaha. Hal ini dapat meningkatkan penetrasi asuransi sekaligus memperluas segmen masyarakat yang terlindungi.

Personalisasi Manfaat bagi Nasabah

Platform penjualan digital juga dapat dieksplorasi pelanggan untuk melakukan personalisasi manfaat. Industri dapat mengubah pola penjualan dari menyediakan banyak pilihan produk menjadi beberapa pilihan produk induk untuk selanjutnya ditambahkan rider yang sesuai dengan kebutuhan nasabah untuk perlindungan jiwa. Demikian pula dengan asuransi umum, misalnya nasabah dapat menentukan pilihan terkait besar deductible asuransi kendaraan bermotor atau loss limit di asuransi kebakaran.

Dengan demikian, semoga lebih banyak lagi “aku” merasakan manfaat asuransi. Asuransi Indonesia, bisa untuk kita yang lebih baik dan terlindungi.

*Senior actuarial analyst di PT AIA Financial, saat ini lebih banyak berkutat dengan pelaporan embedded value dan Prophet modelling terkait asuransi jiwa. Merupakan anggota fellow of Society of Actuaries of Indonesia (FSAI) sejak 2022.

Tags
  • Bulan Menulis
  • ,
  • Bulan Menulis Asuransi
  • ,
  • bulan menulis asuransi 2023
Share this post:
Related Post
Bulan Menulis Asuransi
marc olivier jodoin TQUERQGUZ8 unsplash

KUPASI Bukan Sekadar “Wadah Menulis”

Pada 10 Januari 2013, di Auditorium LIPI Jakarta, Komunitas Penulis Asuransi Indonesia (KUPASI) dideklarasikan dengan satu keyakinan: industri asuransi Indonesia membutuhkan suara. Bukan sekadar suara yang menulis tentang premi dan polis, melainkan suara yang berani berpikir, menggagas solusi, serta duduk satu meja dengan para pembuat kebijakan.

“Menjadi pemimpin dalam penyampaian gagasan (opinion leader) dan solusi asuransi dan manajemen risiko bagi publik serta perumusan kebijakan asuransi nasional.”

Visi itu berdiri di atas tiga pilar: pemimpin gagasan, pemberi solusi, dan mitra strategis dalam perumusan kebijakan. Dari sanalah lahir tagline “Mencerdaskan, Mencerahkan.” Literasi dipandang bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sarana membangun pemahaman publik sekaligus mendorong lahirnya kebijakan asuransi yang lebih baik.

Sejak awal KUPASI dirancang sebagai rumah bagi para ahli asuransi—aktuaris, praktisi, akademisi, dan jurnalis—untuk mengkaji isu strategis seperti risiko bencana, perlindungan masyarakat, dan inklusi keuangan, lalu menyampaikannya kepada regulator sebagai sparing partner yang konstruktif. Frekuensi bencana yang meningkat dan protection gap yang masih lebar menuntut ruang diskusi yang diisi pemikiran kredibel.

Dalam perjalanannya, KUPASI menghadapi berbagai dinamika, termasuk perbedaan pandangan dengan regulator dalam sejumlah isu strategis. Dinamika itu justru menjadi bagian dari komitmen organisasi untuk tetap menyampaikan gagasan yang independen dan konstruktif.

KUPASI tidak lahir untuk sekadar menjadi wadah berkumpul. Cita-citanya lebih besar: mengubah cara bangsa Indonesia memandang risiko melalui gagasan, literasi, dan kontribusi nyata bagi kemajuan industri asuransi nasional.

12 Pendiri KUPASI

Pada 30 Agustus 2012, di ruang rapat komisaris AJB Bumiputera 1912, 12 penulis asuransi dan keuangan menyepakati pendirian KUPASI. Nama mereka tercantum dalam Mukadimah Anggaran Dasar (urutan abjad):

Ana Mustamin · Arman Jufri · Freddy Pieloor · Hasbullah Thabrany · Herris B. Simanjuntak · Hotbonar Sinaga · Irvan Rahardjo · Kapler A. Marpaung · Kasir Iskandar · Mucharor Djalil · Munawar Kasan · Sugiharto.