BMA 2024: Membincang Tagline Baru Asuransi Pahami, Miliki, Lindungi

Family care concept. Hands with paper silhouette on table.

Ringkas, sederhana namun sarat makna. Pahami, Miliki, Lindungi merupakan tagline baru yang mengajak masyarakat untuk berasuransi menggantikan tagline lama, Ayo Berasuransi!.

Sungguh kreatif namun sangat kritis pencetus ide tagline di atas. Di tengah goyahnya kepercayaan masyarakat terhadap industri asuransi nasional kita, tagline baru asuransi pahami, miliki, lindungi dapat mengubah mindset masyarakat untuk sadar asuransi namun dengan cara yang lebih halus yang bahkan mungkin tanpa disadari oleh masyarakat dan dengan senang hati untuk tetap berasuransi.

Mengubah Pandangan Negatif terhadap Asuransi

Ada sebuah pandangan di masyarakat bahwa asuransi adalah tukang tipu sebagaimana yang diabadikan dalam judul buku yang fenomenal karya salah satu guru asuransi kita. Pandangan ini tidak sepenuhnya keliru jika dipandang dari sisi nasabah.

Pahami: Mengajak Masyarakat Lebih Kritis

Biasanya masyarakat hanya mendapatkan gambaran umum tentang asuransi yang dijelaskan oleh agen asuransi tanpa menerangkan syarat dan ketentuan yang melekat pada suatu produk asuransi. Memang betul saat nasabah mengajukan klaim merasa ditipu saat ditolak klaimnya karena ternyata syarat dan ketentuan asuransinya tidak terpenuhi. Oleh karena itu tagline pertama pahami mengajak masyarakat untuk lebih peka dan kritis terhadap penjelasan agen asuransi untuk lebih jeli dan banyak bertanya agar mendapatkan pemahaman yang memadai sebelum memutuskan langkah berikutnya.

Tagline pertama pahami sudah sangat tepat ditempatkan pada posisi pertama agar kesan masyarakat bahwa asuransi adalah tukang tipu secara perlahan dapat dihapus dari memory kita. Kesan negatif ini nampaknya telah lama ada di benak masyarakat kita sehingga butuh cara yang efektif untuk mengubahnya menjadi kesan yang lebih positif.

Miliki: Ajakan Halus untuk Berasuransi

Setelah memahami produk asuransi secara baik, masyarakat diajak untuk memiliki produk asuransi karena pada tahap ini masyarakat dianggap telah memiliki pemahaman yang cukup tentang apa pentingnya memiliki asuransi. Kata miliki sering kita jumpai pada iklan penjualan barang fisik dan konsumtif seperti rumah hunian maupun kendaraan bermotor. Kata miliki merupakan ajakan halus yang menggantikan kata belilah! yang mengajak konsumen untuk membeli produk tertentu meskipun tidak menggunakan kata dasar beli.

Frasa ini telah diadopsi dalam industri jasa keuangan yang menjadikannya semakin menguatkan tujuan dari proses memahami menjadi membeli karena ternyata asuransi memiliki arti yang begitu penting dalam kehidupan bermasyarakat.

Lindungi: Esensi dari Tujuan Asuransi

Selanjutnya frasa lindungi merupakan esensi dari tujuan asuransi. Frasa lindungi merupakan inti mengapa kita perlu berasuransi. Kita sepakat bahwa kita berasuransi agar aset dan kepentingan keuangan yang kita miliki terlindungi dari risiko yang dapat muncul kapan saja yang mengancam setiap saat. Dengan aset yang terlindungi asuransi maka kekhawatiran kita terhadap bahaya dan risiko yang mengancam dapat dikelola menjadi tindakan nyata yang lebih positif.

Meningkatkan Literasi dan Inklusi Asuransi

Jika 3 langkah tersebut dilaksanakan secara efektif maka literasi asuransi dengan sendirinya telah berjalan dalam masyarakat. Dengan meningkatnya literasi asuransi dalam masyarakat maka diharapkan inklusi asuransi juga dapat meningkat.

Tags
  • Bulan Menulis Asuransi
Share this post:
Related Post
Bulan Menulis Asuransi
marc olivier jodoin TQUERQGUZ8 unsplash

KUPASI Bukan Sekadar “Wadah Menulis”

Pada 10 Januari 2013, di Auditorium LIPI Jakarta, Komunitas Penulis Asuransi Indonesia (KUPASI) dideklarasikan dengan satu keyakinan: industri asuransi Indonesia membutuhkan suara. Bukan sekadar suara yang menulis tentang premi dan polis, melainkan suara yang berani berpikir, menggagas solusi, serta duduk satu meja dengan para pembuat kebijakan.

“Menjadi pemimpin dalam penyampaian gagasan (opinion leader) dan solusi asuransi dan manajemen risiko bagi publik serta perumusan kebijakan asuransi nasional.”

Visi itu berdiri di atas tiga pilar: pemimpin gagasan, pemberi solusi, dan mitra strategis dalam perumusan kebijakan. Dari sanalah lahir tagline “Mencerdaskan, Mencerahkan.” Literasi dipandang bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sarana membangun pemahaman publik sekaligus mendorong lahirnya kebijakan asuransi yang lebih baik.

Sejak awal KUPASI dirancang sebagai rumah bagi para ahli asuransi—aktuaris, praktisi, akademisi, dan jurnalis—untuk mengkaji isu strategis seperti risiko bencana, perlindungan masyarakat, dan inklusi keuangan, lalu menyampaikannya kepada regulator sebagai sparing partner yang konstruktif. Frekuensi bencana yang meningkat dan protection gap yang masih lebar menuntut ruang diskusi yang diisi pemikiran kredibel.

Dalam perjalanannya, KUPASI menghadapi berbagai dinamika, termasuk perbedaan pandangan dengan regulator dalam sejumlah isu strategis. Dinamika itu justru menjadi bagian dari komitmen organisasi untuk tetap menyampaikan gagasan yang independen dan konstruktif.

KUPASI tidak lahir untuk sekadar menjadi wadah berkumpul. Cita-citanya lebih besar: mengubah cara bangsa Indonesia memandang risiko melalui gagasan, literasi, dan kontribusi nyata bagi kemajuan industri asuransi nasional.

12 Pendiri KUPASI

Pada 30 Agustus 2012, di ruang rapat komisaris AJB Bumiputera 1912, 12 penulis asuransi dan keuangan menyepakati pendirian KUPASI. Nama mereka tercantum dalam Mukadimah Anggaran Dasar (urutan abjad):

Ana Mustamin · Arman Jufri · Freddy Pieloor · Hasbullah Thabrany · Herris B. Simanjuntak · Hotbonar Sinaga · Irvan Rahardjo · Kapler A. Marpaung · Kasir Iskandar · Mucharor Djalil · Munawar Kasan · Sugiharto.